(Membuka diari lama, ditulis pada Nov 2007.—sedang rindu latihan.)
Where there is no struggle, there is no strength
(Oprah Winfrey)
Kesibukan berteater yang sedang saya jalani ini, lebih banyak pada latihan fisik. Entah sudah berapa jumlah kosa gerak memperkaya data gerak tubuh saya. Mulai dari gulingan depan yang sederhana hingga loncat harimau. Saya ingat pertama kali melakukan dengan disiplin teknik, ternyata tidak mudah, tulang belakang saya ruas bagian atas, beberapa kali terasa sakit. Ini karena jatuh saya belum benar, mustinya menumpu pada bahu tapi meleset ke tulang belakang. Bukan hanya saya, hampir semua teman Actor Studio pernah merasakan jatuh yang tidak tepat. Tapi itu tidak apa, tetap harus berani mencoba! A smooth sea never made a skilled mariner! Setelah lancar, gulingan depan-belakang adalah hal yang mengasikkan. Saya bisa melakukannya seratus kali. Apalagi kalau sedang patah hati! Heiheiheihe (yang terakhir becanda!).
-foto–
Sejak belajar keaktoran awal Juli 2007, selalu ada jadwal khusus latihan fisik. Bahkan hingga akhir-akhir ini rehearsal menyiapkan pentas esembel, latihan fisik terus dilakukan agar tubuh selalu siap.Beberapa gerakan adalah ;
-gulingan depan
-gulingan belakang
-jatuhan samping (sebenarnya ini bukan gerakan favorit saya, tapi teman2 menuluki saya ‘gadis jatuhan samping!’ karena saya melakukan dengan syalalala…..)
-jatuhan belakang
-jatuhan depan dan menggunting (saya belum bisa)
-rol depan
-rol belakang
-head spring ( saya perlu terus berlatih)
-hand spring (saya perlu terus berlatih)
-gulingan monyet (saya belum berani nyoba. Ternyata untuk jadi monyet aja nggak mudah. ;p. Tentu saja, karena saya terlahir bukan untuk menjadi monyet! ^..^)
-meroda (hahaha, kalau yang ini saya ahlinya! –-boleh ya sekali-kali bangga.;p)
-kayang ( kadang saya masih butuh tembok untuk membantu menyangga)
-gulingan ulat ( lengan bawah saya sudah lecet2, tapi kok belum bisa!? Sebenarnya kuncinya adalah kekuatan perut. Banyaknya latihan fisik, sudah tentu meringankan tubuh saya (bahasa iklannya, tambah langsing!). Berat badan saya sekarang berkisar 44-45 kg, sebelumnya 48-49 kg atau 50-51 kg perut saya pun makin mendatar, tapi ternyata masih perlu dilatih, mungkin hingga six spaces! hihihi ). Sebenarnya, yang penting adalah tubuh makin enak dan sehat. Seandainya menjadi tambah artistik (kayak tubuh Mas Theo-salah satu aktor Garasi), itu adalah bonus! (terlalu PD boleh ya, daripada minder, ya nggak?;p)
-suzuki (kalau yang ini katanya gerakan RAHASIA, soalnya sudah dipaten orang Jepang sana!Sst, nggak boleh sembarangan diberitahu. saya catat bocoran jampi2nya; “ tubuh bagian atas seringan kapas, tubuh bagian bawah seberat bumi!” (silakan dibayangkan!). Gerakan ini sulit, hampir mustahil. Tapi kata mas Chindil-sang sutradara, poin latihan ini adalah seberapa besar kemauan kita untuk memenuhi segala aturannya. Sederhananya, seberapa besar kemauan kami menjadi AKTOR! ). It is not whether the actions are tough or gentle, it is the spirit behind the actions, gals!
-honda (intermezo-kalau yang ini merk motor saya! Wekekek!)
-dan masih banyak gerakan lainnya yang tak bernama. Yang pasti, saya menikmati. Bisa berhaha hihi meski tubuh memar-memar.
Oleh sebab latihan fisik, saya jadi lebih peduli pada tiap inci tubuh saya! Ckckck! Lebih mengenali kekurangan dan kelebihannya. Too many people don`t care what happens, so long as it doesn`t happen to them! Ternyata, agar lebih kuat, lengan saya butuh latihan ekstra, push up ala wanita saja saya sering kekurangan daya. Telapak kaki kiri saya ternyata lebih sensitif daripada yang kanan. Lebih mudah terkilir. Ternyata, saya masih sering kurang percaya diri akan mampu mendarat dengan aman saat hand spring. Sampai-sampai untuk mengawalinya, saya perlu mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi dan butuh ancang-ancang ruang yang cukup lapang, lalu ketika sampai pada tempat menumpu, ternyata ciluk…ba! saya tidak melakukan apa-apa! Hahaha…jadilah gerakan awal saya ini oleh teman-teman diingat sebagai“Laily`s style” ! Ada juga yang memberi frase sayang pada saya, katanya saya ini “banci tampil!” hehehe. No matter anybody tells, I enjoy it Dear! ;p
Perihal meroda, saya memang ahlinya (mohon jangan muak dengan rasa bangga saya! ;p). Sebenarnya bukan hal luar biasa, ini sebab saat saya kecil suka main tali. Meroda adalah salah satu bagian dari main tali. Saat SD, saya tinggal di asrama anak-anak, bila sore tiba, berlangsung rutinaitas tiap anak diwajibkan bermain; bulu tangkis, tenis meja, atau main tali. Saya selalu pilih yang terakhir. Saya lupa pastinya, kenapa saat kecil dulu saya sangat-sangat tidak suka bulu tangkis dan tenis meja, sejak saat itu saya selalu menghindari aktifitas keduanya! Makanya, ketika berteater, sutradara meminta latihan fisik bulu tangkis sembari pelisanan, saya mending gelang kepala. Tapi, saya harus melakukannya, ampun…
Saya sering mendiskusikan dengan teman-teman perihal latihan fisik yang sering diawali dengan rasa kurang berani mencoba. Beda ketika kita masih kecil, tidak berpikir panjang dengan akibat-akibatnya. Saat mau melakukan hand spring, saya sering tiba-tiba teringat bahwa rangka manusia tersusun dari 200 tulang yang mendukung dan melindungi organ-organ tubuh (visera). Tulang belakang adalah rangkaian tulang yang fleksibel, tersusun dari 33 ruas yang melindungi sumsum tulang belakang, menyokong kepala, dan merupakan perlekatan bagi pelvis (tulang pinggul) dan sangkar rusuk! Seperti apapun gerakannya, saya harus menjaga sebaik-baiknya. Nah, mulailah saya menimbang-nimbang keberanian. To think too long about doing a thing, often becomes its undoing! Dan, rangka tubuh menyediakan dasar yang kuat bagi otot untuk dapat bekerja. Well, role the mind! Saya berada di lantai ini karena alam percaya saya bisa, maka beranilah saya mencoba! Yess!!! —foto—
Masih banyak gerakan-gerakan lain yang tak bernama, yang dilakukan sendiri atau berpasangan. Semua bagi saya mengasikkan kecuali bermain bulu tangkis. Tentang latihan fisik, malam ini rehat sementara, saya mau menghafal naskah dulu. O ya peran yang sedang saya tempuh untuk esembel kali ini adalah sosok Mbokde Jemprit; seorang bakul bumbu, pekerja keras, orang pasar, kemproh, kemresek, asal njeplak, mudah terpancing emosi, dan sering mengeluh. Hhh, karakteryang penuh energi negatif, kecuali sifat kerja kerasnya! ;p.Ada adegan kencing sembarangan dan nggak cebok segala. Insyaallah, pertengahan Desember 2007 ini, akan pentas di tugu proklamasi Jakarta, nah adegan kencing ini tepat di tugu proklamasi. Ampun Gusti, mudah2an jangan ditangkap polisi. Gitu aja. Lain kali, sambung lagi!
Jogja, November 2007
[Contemplating...]
baiklah, kuturuti ke mana pancaran mata air ini terus mengalir. akan kujadikan kedalaman ini memimpin.
Catatan ; tulisan ini pernah saya posting di Blog FS saya. Di antara tulisan-tulisan saya yang lain, yang ini termasuk yang paling banyak pengunjungnya, terbukti dari berbagai pesan yang tinggalkan oleh berbagai site. Seheroik itukah saya berproses hingga banyak yang merespon? Tunggu dulu, jangan bikin saya (sembarangan) tersanjung. Bukan. Tentu saja bukan sebab itu. Pesan-pesan (dari site asing) yang tinggalkan adalah tawaran bermacam-macam merk obat! Kok bisa? Yang mengirim dipastikan nggak bisa bahasa Indonesia. Ada yang pakai prolog mengaitkan dengan Oprah segala, tapi ujungnya jualan obat. Karena di tulisan itu saya menyebut angka-angka diiringi satuan kilogram, dan mereka menyimpulkan bebas dari potongan-potongan tulisan bahasa Inggrisnya saja, lalu mereka pikir tulisan saya sedang curhat kesulitan menurunkan berat badan! Wezzz.
Riza? Hah, Riza yang mana? Yang beredar di kehidupanku, yang bernama Riza atau serupa itu ada banyak. Ada Riza ini, Riza itu, Riza anu, Reza, Rezza (double z), Rez, Reiza, Riz, Riez. Yang ini adalah Riza itu. Yang waktu itu pertama kali kukenal di ruang IV kampus kami. Saat itu ada kuliah Struktur dan Perkembangan Tumbuhan I diampu oleh Ibu Budi. Beberapa waktu sebelumnya, kami setiap mahasiswa diberi tugas membuat Wekstuk (hayo, Riza yang calon Ph.D-Doctor of Phylosophy- masih inget Wekstuk gak? Hehe). Itu lho, membuat makalah berisi pertelaan suatu tumbuhan (wis ngerti Lel!). Jatah tumbuhanku adalah jambu mete. Selama beberapa hari itu aku sudah muter Jogja (muter sejauh yang bisa kutempuh tentunya), tapi tidak ada tumbuhan tersebut yang memungkinkan dipetik pucuknya untuk dikarakterisasi. Saat kuliah siang itu, Riza duduk di belakangku dan bilang kalau di belakang rumahnya ada pohon jambu mete. Pertemuan berikutnya, benar dia membawakan pucuk itu. Kabarnya, dengan susah payah dan hampir terpeleset dia meraih pucuk itu demi aku. Demi aku!? Ckckck! (“Hush Lel, itu demi penelitian dan demi ilmu pengetahuan!” ralat Riza). Oke, oke. Hayo itu berapa tahun yang lalu Za? Aku masih inget lho!
Beberapa bulan belakangan ini, aku sedang tidak menulis banyak di halaman ini. Justru sedang lebih senang membaca ulang tulisan orang-orang. Selama ini yang paling rajin mengikuti tulisanku dan meninggalkan komen di blog ini adalah Riza. Atau sebenarnya ada pembaca-pembaca setia yang lain, hanya saja mereka tak meninggalkan jejak. Heihei. (Ijinkan Laily GR, biarkan sejenak ia merasa punya pemuja rahasia! Huehue!). Namun, sejak Riza melanjutkan studi program doktor di Perancis, sepertinya dia jarang singgah ke sini. Kelihatannya sibuk banget menyelesaikan penelitiannya. “Sst, sebenarnya dia selalu sampai di halaman ini lho, hanya saja sampai batas tertentu dia ikut-ikutan jadi seperti pemuja rahasiaku, nggak mau ninggalin jejak, gitu!” tuduhku dalam hati. (jangan protes!). Justru, sekarang akulah yang rajin mengikuti tulisannya. Terakhir ia bercerita tentang mikoriza (Mei 2009), terkait dengan sejarah penemuan genom dan rasa syukurnya. Sebagai sesama yang belajar Biologi, aku harus “iri” dan salut pada dia, pada dedikasi, taktiknya atas Biologi, dan kerendahan hati yang ia miliki. (Ups, kalo Desti dan Tika sampai di halaman ini, sepertinya “nggak rela” atas pernyataan barusan. Nggak rela Riza makin GR!J). Bisa berhari-hari seandainya aku harus menceritakan tentang Riza yang kukenal. Sementara ini biarlah cuma aku dan Riza yang tahu. Yang boleh ditahu, bahwa ketika konsentrasiku mulai berpaling menjauh dari Biologi, dia salah satu yang selalu jadi sumber inspirasiku untuk kembali. Alhamdulillah. Kali ini, aku ingin mengingatkan (pada diri sendiri) lagi waktu dimana dia mulai rajin menulis di blog, berikutini tulisannya 2 tahun yang lalu.
May 29, 2007
Genome Polymorphism, One Two Three
A Review
Riza A. Putranto
Banyak pengetahuan baru telah ditemukan. Banyak juga yang mengatakan saat ini adalah eranya Bioteknologi. Secara harfiah, konsep bioteknologi sebenarnya adalah menggabungkan antara teknologi dan keilmuan biologi. Pengertian ini masih sangat luas, hanya saja di era yang menuntut kecepatan dan high-tech seperti yang selalu didengungkan Habibie, bioteknologi berarti percepatan kapasitas produksi menggunakan pendekatan teknologi dan biologi untuk mendukung revitalisasi sektor riil, artinya bisa saja mendukung pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, bahkan hingga off-shore. Hampir semua kalangan saat ini selalu berbicara mengenai dua konsep utama yakni GMO (Genetic Modification Organism) dan Polymorphism.
GMO sendiri menduduki ranking pertama di dunia yang mendapatkan perhatian dari beberapa produsen GMO atau GMO’s specialist, yang pada akhirnya menjadi perintis di dogma ini. Tidak sedikit pula yang menolak untuk menerima GMO yang diintroduksi oleh teknologi, banyak kasus yang berkembang sebagai contoh Bt cotton, Starcorn, dan lain-lain. Kasus Monsanto dengan Bt cotton menjadi pelajaran yang sangat berharga di Sulawesi kala itu.
Minimnya pengetahuan dan rendahnya sosialisasi mengenai Bt toxin yang digunakan membuat persepsi negatif terus timbul. Sebagai seorang biologis kala itu, penulis memberikan opini yang meragukan keberhasilan Bt cotton yang diintroduksi di Indonesia. Lalu, kasus Bt corn yang hingga sekarang ini coba untuk diintroduksi dan dilakukan secara ”diam-diam” oleh GMO’s specialist juga tidak kunjung menunjukkan hasil. Secara teknologi, GMO sendiri merupakan hasil rekayasa yang ditujukan untuk kebaikan, namun kadang kala tidak semua pesan tersembunyi di dalam ”rekayasa”nya mampu dicerna dengan baik oleh semua kalangan. Ada hal yang lebih menyenangkan dibandingkan GMO, yaitu Polymorphism, hal besar yang diawali dari hal kecil.
Polymorphism atau lebih dikenal dengan polimorfisme, atau keanekaragaman, dalam ilmu biologi mudah untuk disebut variasi, adalah sebuah kondisi dimana terjadi keragaman morfologi (bentuk) yang telah diketahui berasal dari genetik (genotipe, gen). Keseluruhan gen di dalam organisme atau tubuh disebut genom (genome). Keseluruhan gen inilah yang membentuk, mengatur, dan merepresentasikan segala perilaku suatu organisme mulai dari makhluk bersel satu hingga multikompleks, manusia termasuk salah satunya. Penulis mendapatkan bahan diskusi yang sangat menarik ketika salah satu kolega menunjukkan secara langsung penemuannya mengenai ”abnormalitas” (cacat) di dalam gen X (maaf, nama gen tidak dapat disebutkan). Penulis berkesempatan sendiri memahami polimorfisme yang terjadi di dalam urutan sekuen gen tersebut. Jika hanya dilihat sepintas, perbedaan itu tidak akan nampak dikarenakan perbedaan tersebut seperti sebuah titik diantara beribu garis berwarna. Sama halnya jika kita melihat kerikil di jalanan, sebenarnya kerikil-kerikil itu memiliki makna namun kadang kita tidak peduli.
Gambar sekuen dua gen yang diperbandingkan (perbedaan satu basa ditandai dengan tanda asteriks)
Nampaknya dogma ”segala sesuatu yang besar berasal dari sesuatu yang kecil” menjadi sebuah prinsip yang harus dipegang. Dengan menemukan sesuatu yang kecil tersebut ternyata banyak mengandung informasi yang berhubungan (memiliki link) dengan mekanisme-mekanisme besar yang terjadi. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa ”abnormalitas” muncul karena perbedaan yang seperti titik ini. Bagi urutan DNA, perbedaan satu basa akan menimbulkan perbedaan pembacaan sekuen saat transkripsi terjadi, artinya jika kodon (kode genetik) menerjemahkan triplet yang berbeda maka bisa jadi protein yang dihasilkan berbeda. Masih ingat fungsi protein dalam kehidupan? Adalah sebagai molekul pembangun. Jadi, berdasarkan fakta ini semua peneliti dan ilmuwan di dunia akan mengerti bahwa semua struktur bangun organisme berasal dari protein. Maka dapat dimengerti pula manakala terjadi perubahan pengkodenya alias kodon, berubah pula proteinnya. Gambarannya adalah seperti mengubah bahan dasar rumah yaitu semen dengan tepung, mirip namun sifat konstruktifnya berbeda, rumah itu akan hancur dalam sekejap.
Gambar sekuen tiga gen yang diperbandingkan (perbedaan satu basa ditandai dengan tanda asteriks)
Konsep ini telah banyak digunakan dalam mencari perbedaan satu basa satu gen, yaitu SNP (baca: SNIP, Single Nucleotide Polymorphism). SNP sendiri telah banyak digunakan di manca negara, terutama Eropa dalam memahami abnormalitas. Sesuai bahasan sebelumnya, perubahan struktur “rumah” tersebut, membuat tampilan, bentuk atau morfologi organisme-nya berubah. Dalam buah sawit dikenal adanya mantle fruit (buah berbentuk mantel, abnormal, penurunan produksi), juga pada pisang raja dan kakao dikenal adanya cherelle-wilt (layu pentil, penurunan produksi). Penulis hanya ingin mengatakan bahwa inilah asal muasal abnormalitas. Jika logika ini digunakan untuk menjelaskan semua kejadian yang terkait genetis maka mudah untuk dimengerti, bahwa ternyata hampir disemua penyakit keturunan manusia ditemukan adanya SNP atau perbedaan satu basa yang selalu berdekatan dengan gen penyebab penyakit. Hal ini sedang dan telah dikembangkan oleh Ilmu Kedokteran untuk dijadikan assay dalam usaha mendeteksi dini penyakit-penyakit keturuna seperti Tay-Sachs, Kanker, bahkan kebotakan. Secara teori bahkan dapat digunakan untuk mendeteksi hemofilia lebih awal, sehingga mengurangi kemungkinan kematian akibat ketidaktahuan penderita. Sama halnya yang dilakukan peneliti perkebunan untuk berusaha mengurangi segala polimorfisme yang terjadi di lapangan, memahami aktivitas gen dan ekspresi yang berada di dalamnya sehingga mampu untuk memprediksi penyebab utama “abnormalitas” di banyak tanaman perkebunan.
Polimorfisme, baik yang terjadi secara langsung (alam) ataupun buatan sama-sama menuju ke arah GMO. Seperti contoh, petani zaman dahulu mencoba meningkatkan produksi tanamannya dengan okulasi, stek dan hibridisasi silang. Perkawinan hibrid adalah contoh paling mudah, merupakan kegiatan GMO’s specialist, tanpa petani sendiri menyadarinya. Sebenarnya “di dalam sana” (di dalam tanaman) terjadi persilangan gen yang dihibridkan oleh sel karena tanaman memiliki sifat totipotensi, inilah yang kemudian terus mencoba dilakukan manusia hingga saat ini. Hanya saja tingkat keberhasilan hibridisasi secara konvensional masih rendah, dan sesuai dengan hukum Mendel tentu saja akan rendah karena ribuan bahkan jutaan gen ada dalam satu tanaman dan diekspresikan secara hampir bersamaan. Oleh karena itu, apa yang dilakukan kegiatan bioteknologi terutama gen molekuler adalah untuk meruncingkan pisau sehingga proses hibridisasi ini berlangsung dalam sekejap dan meningkatkan tingkat keberhasilan. Paradigma inilah yang senantiasa salah dipahami dan menimbulkan perselisihan. Sama seperti ketika nenek moyang kita melihat korek api, maka akan timbul keheranan sekaligus ketakutan. Ketakutan sendiri akan menuju penolakan(denial) yang akhirnya menimbulkan perselisihan.
Lalu, apakah kita sebagai manusia-manusia yang berada di abad yang lebih maju mau mengalami seperti apa yang akan dialami nenek moyang kita? Nampaknya inilah pertanyaan yang masih harus dijawab oleh kita semua.
Yogyakarta, Mei 2009.
(Di sini Laily sedang memperbaharui energi untuk bersenang-senang (baca: bersungguh-sungguh) dengan Biologi. Bila ingat Riza, perjuangan, dan kerja cerdasnya, rasanya Laily harus malu pada diri sendiri, malu karena tak mampu menaklukan waktu, malu karena tak bijak membagi konsentrasi. Rasa malu ini sering menerorku harus (segera) berbuat dan bermakna sesuatu di bidang Biologi. Dan pada akhirnya nanti, setiap pilihan menemui takdirnya masing-masing. Ya Allah, Ihdinashishiraatal Mustaqiem.).
usahanya telah menempuh ribuan titik yang tak menentu dan menentu. kini kesiapannya bertambah-tambah menuju ke arah manapun maksudMu.
Dia mulai menemukan pagi yang lain. Mendapati dirinya berjalan di lorong kerumunan menuju sesuatu yang di balik layar. Pagi yang masih terbitkan takbir dan salam yang nyaris enggan. Pagi yang rukuk dan sujudnya hanya berlangsung dalam pikiran.
Sementara, 75% isi otaknya masihlah tentang Romeo dan Yulia. Tentang bagaimana sepasang manusia bahagia selamanya tanpa harus MATI muda.
Jika nanti atau besok pagi hatiku harus jatuh (lagi), jatuhkan pada tempat yang tepat. Jika aku perlu bersandar, datangkan satu bahu pilihanMu dengan segera, biar aku tak perlu lagi berlari kesana kemari. Jika aku melarikan diri, jerat kakiku dengan taliMu yang Agung…
hari ini adalah hari terlelahku di tempat kerja. semoga yang kukatakan ini benar, sehingga tak ada waktu yang lebih melelahkan dari hari ini. lelah fisik dan batin. keluh ini memang tidak adil, karena aku pun pernah melewati hari terindah di sini, hingga sujudku siang itu kutarik lebih panjang, dan saat itu aku tak membagi di sini. entah sejak kapan aku mulai tak punya rasa sesal, hingga Yang Lelah dan Yang Indah memiliki arti yang sama di kedalaman sana. di kedalamanku. sejak itu pula aku makin miskin kata-kata.
Bila aku sungguh-sungguh bertanya, Kau pun lebih sering sungguh-sungguh menjawabi dengan segera. Itu pula yang mungkin membantuku selalu bertahan meski terkepung di ruang-ruang yang untukku tidak nyaman. Sebab, ternyata kenyamanan lebih sering menelantarkanku dalam lupa berjaga dan lupa siaga. Aku meminta kekuatan, karena itu Kau beri aku kesempatan mengatasi ujian-ujian. Maka, kebesaranMu yang manakah yang masih kuragukan? Untuk ke sekian kali, bolehkah aku mengharap? Tempat untuk Pulang, lalu aku bisa sampaikan pada tetanggaku tanpa ragu bahwa itulah rumahku, rumahku yang di sana aku bisa Pulang. Yang sungguh Pulang. Yang senantiasa kupercaya saat aku menidurkan kepalaku yang penat. Dan kuceritakan pada bunga krisan di halaman itu tentang aku yang (entah mengapa) suka pergi-pergi hingga akhirnya mengerti bagaimana merasai rindu Kembali. Dan sungguh tiap waktu menjadi penuh arti, karena setiapnya tak pernah terulang persis sama.
Mengapa aku meminta tempat Pulang? Bukankah cukup Kaulah tempat itu? Dan mengapa aku masih bertanya? Biarkan aku menjawabi diri atas pembacaanku pada Rumi, “If I could wake completely, I would say without speaking.”
bla…
bla…
bla…
bla…
(males nulisin ceritanya).
bla… bla…bla…kesimpulannya, ternyata saya tidak butuh cowok ganteng, tapi butuh cowok baik! (ending yang klasik!). Untuk peran narcissus tetap diperlukan cowok ganteng…
(Cerita separuh fiksi)
Suatu hari saya berkesempatan menjadi customer service di sebuah rental film di Jalan Kaliurang, hanya beberapa hari. Saat itu akhir Desember 2008. Ada beberapa pengunjung yang mencari Film Les Mirables (bener gak sih nulisnya?). Hari itu (dan mungkin hari-hari lain) sangat sibuk, banyak pengunjung, bahkan hampir tidak sempat ngobrol dengan pelanggan meski sebentar. Tapi saya sempat bertanya ke salah satu yang mencari Les Mirables, karena saat itu dia tanya langsung ke saya. Yang lain biasanya mencari di komputer, lalu menunjukkan kode-kode untuk dicarikan.
“Kenapa nyari Les Mirables, Mas?” Sok pingin tahu banget sih saya ini. Sementara film itu di tempat kami sudah tidak ada. Film lama.
“Pingin aja!” balasnya.
“Atau karena rekomendasi dari Pak Pendeta?” tanya saya.
“Haha. Betul! Berarti kemarin kita natalan di gereja yang sama! Bentar ya…” balasnya, lalu terburu dipanggil temannya. Dan saya pun terburu mencari film-film pesanan pengunjunglain di lantai 2. Hingga akhirnya hari itu saya tidak bertemu dia lagi.
Beberapa hari sebelumnya, saat natal, saya dan teman saya ke sebuah gereja di Jogja. Teman saya juga menjadi CS rental film di tempat lain. Kami sudah menduga bahwa setelah kotbah pendeta saat natal itu pasti akan ada yang mencari film tersebut. Cara pendeta itu bercerita menarik gelak tawa para jemaat, saya yang saat itu cukup ngantuk pun turut terperanjat. Khotbahnya dibuka dengan cerita singkat mengenai buku Maryamah Karpov karya Andrea Hirata, khususnya mengenai nama tambahan yang sering dilabelkan pada seseorang. Pendeta tersebut mengestimasi seandainya Bunda Maria tinggal di Indonesia melayu, kemungkinan ia akan mendapat gelar tambahan Maria BSK (Maria Bunda Suci Katanya). Bla…bla…hingga akhirnya berkisah tentang film itu. Ringkasnya tentang perbuatan buruk yang dibalas dengan kasih yang besar bisa mengubah hidup seseorang menjadi lebih berarti. Teman saya di sebelah malah sibuk berkomentar tentang Bapak Pendeta tersebut yang cocok sebagai customer service Rental Film atau jadi aktor monolog. Oalah!
Saat pulang dari jaga rental, saya cerita ke teman yang saat itu natalan bersama. “Masnya cakep?” begitu respon iseng teman saya. “Cakeplah makanya aku bela-belain nanya!”. “Harusnya Mbak Laily nanya, Minggu depan ke gereja jam berapa?” Tentu saja saya tidak akan bertanya begitu, saya akan bilang, “Sampai bertemu di Gereja Minggu depan ya!” Lalu, justru ia yang akan bertanya, “Mbaknya ke gereja jam berapa?” Kubalas sembarang, “pagi!”. Saya memang tidak tahu pasti jam-jam ibadah di gereja. Tapi saya berusaha menjadi hamba Tuhan yang baik. Illahi Robbil`alamin; Tuhan semesta alam; Tuhan segala suku, segala ras, dan segala agama.
Minggu berikutnya di gereja. “Hei, Mbaknya yang kemarin di rental film kan?” sapanya. “Betul. Oh ya kita belum kenalan. Laily” saya menjulurkan tangan. Dia pun menyebut sebuah nama. Seorang lelaki di sampingnya turut menjulurkan tangan dan menyebut sebuah nama. Teman saya pun saya kenalkan. “Nggak nyangka kita ketemu lagi, ya!” kata saya basi banget, karena kenyataannya bukan begitu, saya dengan sengaja Minggu ini ke gereja lebih karena berharap bertemu dengannya. Kalau akhirnya saya jadi kenal temannya itu bonus. Bonus buat teman saya, karena kami jadi berempat. “Suka nonton film?” tanya saya, pertanyaan ini juga basi, adakah yang nggak suka nonton film? “Ya,” balasnya singkat. “Film apa yang ditonton terakhir?” saya kali ini sudah seperti wartawan yang berburu berita. Dia menyebutkan 2 judul. Temannya juga. Setelah ngobrol ini itu akhirnya sampailah di parkir dan kami harus berpisah.
Di waktu berikutnya, di rental film lagi (saya dapat kesempatan jaga lagi.) “Hm! Mbak, bisa dicarikan film We`re No Angels?” tanya seseorang. Dari suara “hm”-nya saya langsung menduga dia datang. Apalagi tentang We`re No Angels, meski film lama itu film favorit saya akhir tahun 2008. Sepertinya tentang film itu saya pernah sampaikan padanya, atau mungkin dia tahu dari profil Friendster saya.Di tengah kesibukan kerja, saya sempat menemukan senyum bahagia. Itu senyum saya tentu saja. Dia juga tersenyum, tapi senyumnya bisa lain lagi. Dia menyodorkan selembar kertas berisi daftar film. Dengan semangat 45 saya cari film-film itu, bahkan saya naik turun tangga lantai satu-dua bukan lagi bernama membuang energi melainkan mengolah energi. Entah mengapa tiba-tiba saya mendapatkan semacam energi yang penuh, keadaan yang sudah lama tidak saya rasakan. Bahkan saat itu saya berpikir andaipun itu pertemuan terakhir saya, saya tetap mensyukurinya. Kebahagiaan yang hanya sebentar labih baik dari pada mengenal lebih lama tapi menyisipkan luka dan sebagianya. Aaaah. Uh, mikirnya kejauhan. Dan jika memungkinkan, saya ingin mengenalnya lebih lama. “Mas, ini filmnya. Yang saya silang berarti keluar.” Dia mengangguk sembari memberi senyumnya yang kharismatik. Saya berlebihan memuji. “Ada yang lain?” tanya saya. “Yang…” dia memanggil seseorang. Seorang perempuan berambut ikal. Cantik tentu saja. Langit yang baru saja cerah kini tiba-tiba ditimbuni awan hitam bergumpal-gumpal. Energi penuh itu mendadak musnah. Bodohnya saya, hari gini bertemu cowok cakep, kharismatik dan berpikir jomblo? Satu dari seribu, kali. Jangan pesimis begitu dong. Buktinya saya, cewek cantik dan hari gini jomblo. Plis, jangan muak. Berarti ada kemungkinan dia jomblo kan? Hush, apa nggak dengar barusan dia memanggil “yang” pada seorang perempuan. Oke, oke!
Perempuan berambut ikal itu sedang membuka dompet, mengambil ID, dan tiba-tiba ponselnya dering. Bla…bla..bla…”Bojomu?’ tanya si lelaki. Oh. Lelaki cakep nan kharismatik ini ternyata cuma selingkuhan, tuduh saya dalam hati. Baguslah kalau begitu, saya punya alasan untuk tidak ingin lagi bertemu. Nggak mungkin kakaknya kan, wong manggilnya “yang”. “ID-nya Mbak?” pinta saya segera sedikit tergesa. Saya pandangi ID dengan seksama, ternyata dia satu universitas dengan si lelaki, bahkan satu jurusan. Namanya Mayang X.. Hati saya terbahak, lega tentunya. Bahkan saya tak mampu menahan senyum. Saya senyum sendiri. Lelaki di depan saya juga senyum. “Kenapa Lail, senyum-senyum?” tanyanya. “Nggak papa,” balas saya singkat sembari berpikir bahwa hari gini pasti masih ada cowok cakep, kharismatis, dan (bisa jadi) jomblo! Horeee.
Lain hari, saya punya kesempatan jaga di rental film lagi. Sebenarnya saya sudah tidak berpikir tentang lelaki itu. Bukannya mau melupakan, dalam memori saya dia sudah masuk folder TEMAN. Hanya TEMAN. Dari folder YANG KUTANDAI masuk ke folder TEMAN. Saya sudah tidak menandai. Hei saya menandai untuk apa? Dia boleh tersanjung, sebab saya sedang mendapat tawaran mencari aktor untuk memainkan peran Narcissus. Dia harus ganteng dan kharismatik tentunya. Saya baru menandai beberapa dan masih belum menentukan. Padahal menurut saya, yang paling memungkinkan adalah dia. Sebenarnya tidak ada syarat harus jomblo, itu syarat dari saya saja, biar saya tidak perlu berurusan dengan kekasihnya. Sebab pasangan mainnya adalah saya. Selain itu, berdasarkan perhitungan psikoanalitis, untuk memerankan Narcissus memang diutamakan jomblo. Entah psikolog mana yang membuat teori itu, dilarang protes. Hari ini dia datang. Dia menyodorkan selembar kertas kecil berisi daftar kode. Dan langsung mengembangkan senyum mautnya. Saya beristighfar dalam hati. Jangan sampai senyumnya itu awal dari sebuah bencana. Ah, saya barangkali keterlaluan berpikir begitu, wong dia bukan setan. Dia cowok baik-baik. Eits tahu dari mana?
“Film terbaru apa ya Lail,” tanyanya. Saya menunjuk sebilah dinding yang ditempeli berderet judul film New Release. “Hei, kamu pemain teater ya?’ tanyanya lagi. “Ah, itu isu!” balas saya. Seingat saya, saya tidak pernah cerita padanya tentang keterlibatan di teater. “Isu bisa berarti benar, bisa berarti tidak! Jadi kamu yang mana?” dia menulis kode. Dalam hati saya malah sibuk komentar, sungguh benar lelaki ini memang ganteng. Tapi terkait gantengnya ini saya merasa ada sesuatu yang tidak beres. Saya buang jauh-jauh pikiran itu. Ganteng ya ganteng. Masa ganteng dan tidak beres. Atau ganteng dan bengis. Nggak gitu deh. Dia ganteng, tapi apa ya?“Say…” suara seseorang memanggilnya. Nah siapa lagi? Seorang lelaki berpakaian rapi bertubuh tinggi, berisi, dan tak kalah ganteng memanggil sang lelaki.Sesaat saya diam, waktu seolah berhenti di sana ketika saya mencocokkan kode-kode itu. Semua yang dicari adalah film tentang disorientasi seksual, film perihal homo. Saya ingat yang dikatakan teman saya bahwa beberapa pelanggan film terkadang memang aneh , termasuk ada pasangan sejenis yang sering nonton film homo. Saya tidak sedang mengarahkan perihal pilihan orientasi seksualnya pada norma tertentu, tapi ini terkait dengan pikiran saya lagi bahwa hari gini ada cowok cakep, kharismatik, dan jomblo, itu mustahil!
Parahnya, sempat-sempatnya hati saya terkoyak saat itu. Hei siapa dia? Baru beberapa waktu kenal dan tidak mengenal betul latar belakangnya. Saya menyerahkan film-film itu sembari kehilangan kalimat. “Sudah nonton film-film ini, Lail?” tanyanya, lebih ramah dari biasanya. Saya tiba-tiba sama sekali tidak minat ngobrol. Sungguh, saya keterlaluan. Hanya gara-gara (kemungkinan) dia gay, kok saya sewot. Kalau orang lain gay, saya memaklumi, tetapi ini dia, orang yang sudah saya tandai. “Belum,” jawab saya terlambat. “Teman-temanku mau pentas teater, mengangkat tema hubungan sejenis. Ini salah satu aktornya. Kenalkan!” jelasnya tak terduga, sungguh itu menjawab kegalauan saya. Temannya yang tadi memanggilnya ‘say’ menyebut sebuah nama dan berkelakar kalau demi mendalami peran ia memanggil ‘say’ ke lelaki itu. Kali ini saya harus tersenyum lagi. Entahlah untuk apa. Mungkin untuk pertanyaan, hari gini masih ada cowok cakep, kharismatik, dan jomblo? Dan saya ingin menjawab sendiri : MBUH! Saya tidak ingin terlalu peduli. Yang ingin saya pedulikan bahwa dia memang pantas memerankan tokoh Narsiccus dan saya harus fokus hanya untuk niat itu. Itu saja! Puas? Hehe.
+++
Jl. M. Gatotkaca A2.
Januari 2009.
Barangkali cinta dua manusia tidak penting, karena dalam kitab suci Tuhan tidak pernah membahas secara khusus perasaan cinta antara perempuan dan lelaki. Atau, justru itu sangatlah penting, karena perasaan cinta adalah hukum universal yang lintas suku, lintas ras, lintas agama, lintas status sosial, dan lintas lainnya, maka Tuhan Semesta Alam membiarkan manusia memahami soal mahapenting itu dengan cara masing-masing. Dan akhirnya, cara kerja cinta menjadi jalan mengenal sejatiNya.
Sore itu kami, para perempuan, sedang bertiga di kamar seorang teman. Membahas soal cinta dengan cara menarik kisah-kisah dari luar dan meniti ke dalam diri. Pembahasan ini berangkat dari kami yang seringkali tidak mengerti bagaimana memahami kerja cinta dengan benar. Bila bertanya pada orang tua, jawaban-jawaban mereka sebatas pengalaman yang bisa mereka jangkau. Sedangkan kami, anak-anak mereka, merasa dikepung batas dan tuntutan yang berbeda. Intinya kami tidak puas. Kami pun mulai (sok-sokan) mengkaji ulang cerita cinta rekaan yang mahadaya, yang dikumandangkan sepanjang jaman. Romeo Juliet, Layla Majnun,Rama Shinta, Bondowoso Jonggrang, dst. Agar serasa lebih ilmiah, kami juga meninjau berdasar teori-teori dari buku. Se-ri-us!
Dan kadang kita (kami dan Anda) lupa kalau rumusan yang akhirnya menjadi teori itu dibentuk dalam keadaan sama-sama sedang dipahami. Padahal, dalam teori selalu mengandung derajat anomali dan seringkali kita tidak (segera) mengerti hingga mengalami sendiri.
Umpamanya, seorang gadis menangis sedu sedan serasa dunia runtuh seiring hati yang remuk redam dan berantakan. Ia dicampakkan oleh kekasihnya, tepatnya kedua kekasihnya. Ia dengan sadar memacari dua lelaki yang bersahabat. Kedua pacarnya ini saling tidak tahu kalau mereka mengasihi gadis yang sama. Gadis ini pun tahu bahwa keadaan itu berisiko, maka perlu membekali diri dengan berbagai teori untuk mengantisipasi. Saat kedua pacarnya tahu, ia pikir akan diperebutkan keduanya dan ia akan memilih yang paling heroik perjuangannya. Ternyata, hidup lebih sering tidak seperti yang di novel-novel atau film-film. Yang terjadi, gadis itu ditinggalkan keduanya.
Kehidupan memang tidak selalu seperti di novel atau film, meski novel dan film dibikin merujuk pada lalu lintas kehidupan. Penulis novel dan naskah film saat menyusun cerita bisa jadi sedang sama-sama memahami dan akhirnya menyuguhkan hasil abstraksinya yang bisa jadi tepat, bisa juga tidak. Variabel-variabel yang dialami oleh tokoh-tokoh cerita tidak (selalu) selaras dengan yang kita hadapi.
“Lihatlah boneka itu!” tunjuk teman saya pada sebuah boneka beruang yang sedang nungging mencium keset di depan pintu kamar.
“Aku ingat betul saat itu boneka itu begitu istimewa!” lanjut teman saya menahan ekspresi wajah miris.
“Kini ia telantar sedemikian rupa. Padahal ia pernah menjadi pemicu yang bikin aku bertengkar dengan pacarku!” ujar teman saya yang lain. Boneka itu adalah milik teman kami yang kamarnya saat itu kami tempati. Boneka itu adalah tanda cinta dari mantan pacarnya. Gadis itu, teman kami, sedang tidak ada di tempat.
“Aku katakan pada pacarku kalau temanku dapat hadiah boneka dari pacarnya. Apa coba jawab pacarku?” teman saya bercerita.
“Jangan bandingkan aku dengan lelaki lain, karena aku tidak membandingkan kamu dengan perempuan lain. Kita memiliki pola hubungan yang berbeda!” lanjutnya.
“Aku juga. Boneka itu pernah menjadi stimulus yang membikinku menangis. Aku cerita ke pacarku. Bagaimana responnya? Pacarku bilang, dia nggak terbiasa memberi yang begitu dan malah lebih sering menerima hadiah dari cewek-cewek!” keluh teman saya yang mantan pacarnya memiliki kepercayaan diri di atas rata-rata.
“Apa sih susahnya memberi sesuatu? Kami perempuan tidak menuntut yang mahal kok. Yang penting di sini perhatiannya. Buatlah kami merasa lebih dihargai dan lebih dicintai!” lanjut teman saya. Berikutnya kami membahas perihal mengapa perempuan seringkali dengan naifnya mengikatkan diri pada kesetiaan? Padahal ia tahu sedang menghuni kesetiaan di rumah hati kekasih yang bajingan berkarakter atau yang brengsek bermartabat. Dan mengapa perempuan yang seringkali memperhatikan persoalan lebih mendalam justru yang sering menjadi korban? Mengapa perempuan yang lebih merasakan rasa sakit (hati)? Faktanya, kulit perempuan memang memiliki jumlah saraf penerima rasa sakit sekian kali lipat dari pada lelaki. Apakah kebenaran alam ini pun berlaku untuk rasa sakit yang kasat mata?
Sampai akhirnya kami menyimpulkan, lelaki seringkali tidak mau mengerti. Sampai akhirnya kami juga menyimpulkan, cinta itu memang misteri. Barangkali cinta dua manusia tidak penting, karena dalam kitab suci (yang saya yakini) Tuhan tidak pernah membahas secara khusus perasaan cinta antara perempuan dan lelaki. Atau,justru itu sangatlah penting, karena perasaan cinta adalah hukum universal yang lintas suku, lintas ras, lintas agama, lintas status sosial, maka Tuhan Semesta Alam membiarkan manusia memahami soal mahapenting itu dengan cara masing-masing. Dan akhirnya, cara kerja cinta menjadi jalan mengenal sejatiNya.
Kendati cinta adalah hukum universal, sulit sekali untuk dibuat rumusannya, bahkan dengan berbagai pendekatan. Sepertinya tidak ada persamaan matematika yang mampu menjelaskan input output cinta. Juga, tidak ada hukum fisika yang bisa menjelaskan derajat eror cinta. Sebuah penelitian biologi pernah mencoba mengurai fakta cinta dengan mendeteksi kerja otak ketika seseorang sedang jatuh cinta. Ketika seseorang mengingat kekasihnya dengan perasaan bahagia, zat serotonin mengalir ke bagain batang otak. Dalam keadaan aktifitas normal, aliran ini tidak hadir. Apakah kerja cinta selesai di sana? Ketika perlakuan itu diuji pada seorang yang sedang lapar dan membayangkan masakan lezat, ternyata zat serotonin pun mengaliri otak. Jika begitu, perasaan cinta hanyalah salah satu penjelasan kerja tubuh, seperti halnya perasaan lapar dan ngantuk. Ternyata sederhana sekali. Tapi mengapa cinta seringkali menjadi pemicu pertumpahan darah? Dan mengapa tidak? Urusan perut juga bisa menjadi demikian.
Atau dengan pendekatan yang hampir sama, cinta dijelaskan dengan kerja feromon dalam tubuh. Zat yang dikeluarkan tubuh serangga (dan organisme lain) ketika ingin kawin. Tubuh akan mengeluarkan feromon bila bertemu dengan tubuh lain yang dianggap “cocok”. Dalam suatu penelitian, kerja feromon pada tubuh-tubuh yang bersaudara kandung, secara alami saling menolak. Ini menunjukkan bahwa inses, pada fitrahnya adalah fenomena tidak alamiah. Secara alami, tubuh betina hanya bisa menerima tubuh jantan tertentu yang feromonnya cocok dengan feromon tubuhnya. Pun sebaliknya. Alam dengan kerumitan yang teratur dan terancang memiliki inteligensi luar biasa. Hal itu mungkin juga bisa menjelaskan fenomena cinta yang bisa menghadirkan kupu-kupu di perut. Itu hanya dugaan, berlaku bila hadirnya perasaan cinta adalah sinyal yang mendorong keinginan untuk bercinta (berhubungan seksual). Faktanya, kerja cinta tidak sesederhana itu dan aktifitas seksual tidak selalu berhubungan cinta.
Sampai akhirnya kami merasa konyol karena boneka yang kini kusut teronggok dan mencium keset itu bisa-bisanya pernah bikin kami sakit hati. Dan kami tetap berkesimpulan, seringkali lelaki tidak mau mengerti. Pernyataan ini memang terkesan ada upaya melindungi ego perempuan. Tapi kami rasa, upaya itu adalah salah satu bentuk menggerakkan bandul keadilan menuju titik keseimbangan. Diam dan tidak membuat pernyataan bisa jadi sama halnya membiarkan bandul itu kesana kemari tanpa kejelasan kapan dan di mana ia akan berhenti. Atas pernyataan tersebut, sebenarnya kami pun telah mengerti bahwa lelaki biasanya akan mengatakan, “kamu seperti anak-anak!”
Sang ahli teori cinta, Erich Fromm mengatakan, bila kita mencintai karena dicintai itulah cinta yang kanak-kanak dan apabila kita dicintai karena mencintai itulah cinta yang dewasa. Baiklah, andai sesekali kami, perempuan, memilih mencintai dengan cara kanak-kanak agar memberi kesempatan pada mereka, lelaki, mencintai secara dewasa, lalu apa masalahnya?
Jogja, November 2008.
+++